Peringatan Hari Nelayan Nasional kembali menjadi momentum refleksi terhadap kondisi nyata yang dihadapi masyarakat pesisir Indonesia. Perayaan yang seharusnya menjadi ajang apresiasi justru mengungkap sisi lain yang lebih kompleks, terutama terkait dampak perubahan iklim terhadap keberlangsungan ekonomi nelayan. Data dari Badan Pusat Statistik tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 30,2 juta masyarakat pesisir kini berada dalam bayang-bayang ancaman iklim yang semakin sulit diprediksi. Bahkan, laporan dari IPCC memperkirakan potensi penurunan nilai ekonomi sektor perikanan hingga 26 persen pada tahun 2050 jika tidak ada langkah penanganan yang serius.
Fenomena tersebut diperkuat oleh hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim akademisi Universitas Pertamina di kawasan Teluk Aru, Kalimantan Selatan. Penelitian lintas disiplin yang dipimpin oleh Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi tersebut melibatkan berbagai bidang keilmuan seperti Teknik Logistik, Hubungan Internasional, dan Manajemen. Kajian tersebut menyoroti perubahan drastis yang terjadi di salah satu sentra perikanan tangkap utama di Kalimantan Selatan dengan potensi produksi mencapai 98.000 ton per tahun.
Menurut Ita Musfirowati Hanika, perubahan iklim telah mengubah pola kerja nelayan secara signifikan. Cuaca ekstrem yang datang tanpa pola jelas membuat aktivitas melaut menjadi semakin berisiko. Selain itu, pergeseran jalur migrasi ikan turut menyulitkan nelayan dalam menentukan lokasi tangkapan, sesuatu yang sebelumnya dapat diandalkan melalui pengalaman dan pengetahuan tradisional.
Perubahan pola musim juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat pesisir. Durasi Musim Barat yang biasanya berlangsung selama tiga bulan kini dapat memanjang hingga lima bulan akibat perubahan arah angin yang tidak menentu. Kondisi tersebut membuat acuan tradisional yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi tidak lagi relevan. Dalam situasi tersebut, nelayan juga menghadapi keterbatasan akses terhadap informasi cuaca yang akurat dan mudah diakses.
Dampak ekonomi dari kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para nelayan. Lahudina, seorang nelayan berusia 74 tahun di Teluk Aru, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan semakin tidak menentu. Dalam satu perjalanan melaut, pendapatan yang diperoleh sering kali tidak mampu menutupi biaya operasional yang dikeluarkan. Pengalaman mendapatkan satu ekor ikan dengan nilai jual Rp35.000 setelah melaut semalaman, sementara biaya perjalanan mencapai Rp100.000, menjadi gambaran nyata tekanan ekonomi yang dihadapi.
Kondisi tersebut juga mendorong sebagian nelayan untuk mencari alternatif mata pencaharian. Kaswin, salah satu nelayan di wilayah tersebut, memutuskan beralih menjadi petani cengkeh karena hasil dari laut tidak lagi memberikan kepastian penghasilan. Perubahan profesi tersebut menunjukkan adanya tekanan besar yang memaksa masyarakat pesisir untuk beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah.
Hasil penelitian yang telah dipublikasikan melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science serta Dinasti International Journal of Education Management and Social Science mengungkap sejumlah indikator krisis. Kenaikan permukaan laut sebesar 3,5 milimeter per tahun serta penurunan hasil tangkapan hingga 15 persen menjadi bukti nyata adanya perubahan signifikan di sektor perikanan. Dalam situasi tersebut, biaya operasional melaut yang mencapai Rp300.000 per perjalanan kerap kali tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Melalui pendekatan Health Belief Model dan Sustainable Livelihood Framework, tim peneliti menemukan bahwa nelayan sebenarnya memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko perubahan iklim dan keinginan untuk beradaptasi. Namun, keterbatasan akses terhadap teknologi, informasi, dan permodalan menjadi kendala utama dalam mewujudkan adaptasi yang efektif dan berkelanjutan.
Rekomendasi yang diajukan oleh tim peneliti menekankan pentingnya kebijakan yang lebih menyentuh kebutuhan di lapangan. Kemudahan akses pembiayaan untuk peningkatan keamanan perahu serta penyediaan teknologi tepat guna dinilai sebagai langkah strategis untuk membantu nelayan kecil menghadapi tantangan tersebut.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menyampaikan bahwa institusinya berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Penelitian lintas disiplin yang dilakukan diharapkan mampu menjadi jembatan antara kajian akademik dan kebutuhan nyata di lapangan, sehingga dapat memperkuat ketahanan ekonomi nelayan sekaligus menjaga kedaulatan maritim Indonesia di tengah tekanan perubahan iklim.