UPER Dorong Siswa SMA Depok Melek Transisi Energi Lewat Diskusi dan Karya Infografis
Hasil PISA 2022 menyingkap fakta bahwa kemampuan sains dan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD, sebuah sinyal yang mendorong perlunya terobosan baru dalam metode pengajaran di sekolah. Dua kemampuan tersebut bukan sekadar bekal akademik semata, melainkan juga fondasi bagi siswa untuk terbiasa membaca data, berpikir kritis, dan mencerna persoalan pelik seperti transisi energi yang merentang dari sisi teknologi, sosial, ekonomi, sampai lingkungan hidup.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Pertamina menginisiasi kolaborasi bersama SMAN 1 Depok untuk mengenalkan isu transisi energi lewat cara yang lebih membumi dan aplikatif. Kampus yang dikenal luas dengan sebutan UPER tersebut merancang program pengabdian kepada masyarakat bertajuk UPERAISAL 2026, hasil sinergi antara Program Studi Hubungan Internasional dan Teknik Logistik. Kegiatan berlangsung dalam dua tahap, yaitu pada 22 Mei serta 19 Juni 2026, dengan mengusung pendekatan project-based learning sebagai kerangka utama pembelajaran.
Silvia Dian Anggraeni, Dosen Hubungan Internasional UPER yang memimpin jalannya program pengabdian masyarakat tersebut, memaparkan alasan pemilihan metode pembelajaran berbasis proyek. Menurutnya, siswa perlu diberi ruang untuk tidak sekadar berhenti pada pemahaman konsep energi secara tekstual, tetapi juga diajak melihat keterkaitannya dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari sekaligus membangun gagasan mereka sendiri. Cara belajar tersebut, lanjutnya, menjadikan pengetahuan yang diperoleh siswa lebih membekas karena langsung tersambung dengan konteks kehidupan nyata.
Klaim keefektifan metode tersebut turut ditopang oleh bukti ilmiah, salah satunya melalui meta-analisis yang dilakukan Zhang dan Ma pada 2023 terhadap 66 studi seputar pembelajaran berbasis proyek. Kajian tersebut menemukan bahwa metode ini secara konsisten memberi dampak positif pada capaian akademik, keterampilan berpikir, sekaligus sikap belajar siswa. Sejalan dengan hasil riset tersebut, program bersama SMAN 1 Depok pun dijalankan lewat forum diskusi dan pembahasan studi kasus mengenai transisi energi, yang pada akhirnya melahirkan karya nyata berupa proyek infografis buatan siswa sendiri.
Rangkaian program mencapai titik puncak pada 19 Juni 2026, tatkala 16 kelompok siswa tampil satu per satu memaparkan hasil kerja mereka seputar berbagai isu energi. Presentasi tersebut disimak langsung oleh jajaran dosen Universitas Pertamina yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, yaitu Silvia Dian Anggraeni, Yelita Anggiane Iskandar, Ardila Putri, Novita P. Rudiany, dan M. Fauzi Abdul Rachman. Setelah melalui penilaian berdasarkan kreativitas, kualitas substansi, kemampuan komunikasi, serta inovasi, terpilihlah enam kelompok terbaik yang berhak menerima apresiasi khusus dari tim dosen.
Silvia menekankan bahwa nilai penting dari pembelajaran berbasis proyek justru terletak pada perjalanan proses belajar yang dilalui siswa, bukan semata hasil presentasi di akhir program. Ia menjelaskan bahwa siswa dilatih untuk terbiasa berdiskusi, memilah informasi yang benar-benar relevan, serta membiasakan diri menyampaikan dan mempertahankan gagasan berlandaskan data yang telah dihimpun. Kebiasaan tersebut, menurutnya, ikut membentuk pola pikir siswa agar mampu memandang persoalan energi secara lebih kritis dan komprehensif dari berbagai perspektif.
Dampak nyata dari pendekatan tersebut tergambar jelas dalam hasil evaluasi yang dilakukan setelah program rampung. Rata-rata skor peserta tercatat mengalami kenaikan sebesar 6,15 persen, dari 84,2 pada tahap pre-test menjadi 89,38 pada tahap post-test. Peningkatan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek bukan hanya berhasil melibatkan siswa secara aktif, melainkan juga efektif menanamkan pemahaman mengenai transisi energi secara utuh dan mendalam.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menuturkan bahwa penguatan literasi energi pada generasi muda semestinya berjalan seiring dengan kemampuan berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, serta kesigapan mencari solusi atas berbagai persoalan yang berkembang. Ia menggarisbawahi bahwa transisi energi ke depan membutuhkan sosok muda yang tidak sekadar memahami konsep energi bersih secara teoretis, melainkan juga tanggap dan solutif menghadapi dinamika perubahan zaman.
Prof. Ichsan menambahkan bahwa komitmen tersebut telah diwujudkan lewat kurikulum Universitas Pertamina, salah satunya melalui peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi yang tersedia di Program Studi Hubungan Internasional. Langkah ini menjadi salah satu wujud kontribusi konkret kampus terhadap pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya pada pilar pendidikan berkualitas serta energi bersih dan terjangkau, guna mencetak generasi muda yang siap menjawab tantangan transisi energi Indonesia di masa depan.
Kolaborasi UPER bersama SMAN 1 Depok menegaskan bahwa proses belajar bisa jauh lebih bermakna ketika siswa diberi ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan berkarya secara langsung. Buat kamu yang penasaran ingin menimba ilmu di kampus dengan pendekatan belajar yang aplikatif seperti ini, yuk mulai eksplorasi program studi pilihanmu lewat Pendaftaran Universitas Pertamina.